Langsung ke konten utama

Komisariat Wahid Hasyim Adakan Rapat Kerja Periode 2021/2022

 

Dokumentasi: lapmimalang/ Imama Haura

Malang, LAPMI - Rapat kerja Komisariat Wahid Hasyim cabang Malang dengan tema “Membangun Etos Kerja yang Adaptif, Kolaboratif, dan Inovatif Demi Terwujudnya Lima Kualitas Insan Cita” resmi dibuka oleh ketua umum HMI komisariat Wahid Hasyim, Sahrul Evendi. Kegiatan tersebut dilaksanakan di sekretariat bersama HMI Universitas Islam Raden Rahmat Malang, (21/03/2021). Ketua umum mengatakan bahwa dengan diadakannya rapat kerja tersebut diharapkan bisa menjadi pegangan dan tanggung jawab pengurus komisariat terhadap anggota atau kader HMI Komisariat Wahid Hasyim itu sendiri. 

Saat pembukaan, ketua umum Komisariat Wahid Hasyim juga menjelaskan mengapa mengambil  tema “Membangun Etos Kerja yang Adaptif, Kolaboratif, dan Inovatif Demi Terwujudnya Lima Kualitas Insan Cita” tersebut. Ia mengatakan bahwa kita harus bisa membangun etos kerja karena tidak peduli dimanapun kita belajar kalau kita memiliki etos kerja yang bagus, maka akan lebih dilihat oleh masyarakat atau didunia pekerjaan. Di masa pandemi seperti ini kita juga harus adaptif dan mampu berkolaboratif. Selain itu, di era 5.0 pihak yang akan menang adalah pihak yang mampu berkolaborasi dan mampu memanfaatkan IT. Di era sekarang juga dituntut inovatif, inovatif bukan hanya tentang menciptakan sesuatu yang baru, melainkan bisa mengambil referensi produk ditempat lain kemudian diolah sedikit, dan hasilnya sudah beda dari tempat asalnya.

Setelah pembukaan, dilanjutkan dengan dengan sesi penyampaian rencana kerja masing-masing bidang selama satu semester ke depan. Sesi tersebut dimulai dari Bidang PTKP (Perguruan Tinggi Kemahasiswaan Dan Kepemudaan), KPP (Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi), PP (Pemberdayaan Perempuan), Bendahara Umum, dan Sekretaris Umum

Setelah pemaparan rencana kerja selesai, ketua umum Komisariat Wahid Hasyim, Sahrul Evendi kembali menutup acara dengan sambutan penutup dan dilanjutkan dengan doa bersama.

Penulis: Imama Haura
Editor: Reny Tiarantika

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...