Langsung ke konten utama

Harapan Kolabarasi dan Kontribusi Kader HMI dari DPRD Kota Malang

Dokumentasi: lapmimalang/ Almas Reyhan

MalangLAPMI- Pada Hari Sabtu, (10/04/2021), Pukul  08.00-22.00 WIB, di Gedung DPRD Kota Malang, LEMI (Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam) Cabang Malang mengadakan sekolah anggaran yang dihadiri oleh sejumlah kader HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) se-Malang Raya. Acara yang diselenggarakan oleh LEMI Cabang Malang ini direncanakan berlangsung 2 (dua) hari, dari Hari Sabtu(10/04/2021) hingga Minggu, (11/04/2021).

Sekolah anggaran ini merupakan langkah awal dari usaha LEMI Cabang Malang untuk merangkul kader HMI Malang Raya agar peduli dan memiliki kontribusi mengenai masalah perekonomian sedang terjadi. ‘’Ya, sekolah anggaran ini merupakan langkah awal dari LEMI Cabang Malang agar harapannya mungkin kedepannya dari acara ini Kader HMI Cabang Malang bisa lebih memahami dan memiliki kontribusi mengenai masalah-masalah perekenomian yang sedang terjadi, ungkap Sekretaris Umum LEMI Cabang Malang.

Acara sekolah anggaran ini dihadiri juga oleh Alumni HMI Cabang Malang yaitu Harvard Kurniawan yang sekarang  menjabat sebagai anggota DPRD Kota Malang Komisi A. Pada kesempatan itu, ia menyampaikan beberapa materi dan ia juga menyampaikan harapannya agar kader HMI bisa berkolaborasi dan memiliki kontribusi mengenai masalah perekonomian yang sedang terjadi dengan DPRD Kota Malang. "Saya harap mungkin ke depannya acara diskusi seperti ini mungkin bisa di lakukan lebih sering lagi agar kami juga mengetahui pandangan dari mahasiswa mengenai masalah perekomian yang sedang terjadi dan juga saya harap dari kader HMI bisa berperan aktif memiliki kontribusi dan berkolaborasi dengan kami mengenai hal-hal yang berkaitan dengan perekonomian sebagai bentuk implementasi pemikiran-pemikiran mereka, imbuh Harvard Kurniawan (anggota DPRD Kota Malang Komisi A)

Penulis: Almas Reyhan

Pewarta: Almas Reyhan

Editor: Reny Tiarantika dan Jihadul Amry



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...