Langsung ke konten utama

HMI KISIP UB Menggelar Aksi Galang Dana Untuk Korban Bencana Alam NTT dan NTB

Dokumentasi: lapmimalang/ Esa Satrio


Malang, LAPMI – Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI ) Komisariat Ilmu Sosial Ilmu Politik Malang (KISIP UB) menggelar aksi penggalangan dana untuk korban bencana alam daerah NTT dan NTB. Aksi penggalangan dana dilaksanakan di perempatan Jl Kawi Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa  Timur, Jum’at, (9/04/2021).

Kepala Departemen Kepemudaan, PTKP (Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Kepemudaan) HMI KISIP UB, M. Nurcholis Mahendra, mengatakan, kegiatan penggalangan dana ini merupakan suatu bentuk kepedulian HMI KISIP UB kepada saudara – saudara kita khususnya masyarakat NTT dan NTB yang terdampak musibah bencana alam.

“Inikan sudah masuk pada permasalahan sosial yang membuat kita haruslah mengambil peran untuk membantu sesama,atau masyarakat yang sedang membutuhkan”, jelas Mahendra.

Hasil dari penggalangan dana ini akan disalurkan kepada pihak-pihak yang berwenang, seperti Aksi Cepat Tanggap (ACT kota Malang) akan sedikit membantu dalam hal kemanusiaan dan berbagi antar sesama.

Karena keluarga di NTT dan NTB sedang dalam keadaan yang tidak terduga, maka dari kami mengadakan kegiatan ini untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka yang sedang terdampak musibah dalam membantu memenuhi kebutuhan mereka”, jelas Mahendra.

Sementara dari HMI KISIP UB, mengucapkan terima kasih kepada seluruh pengguna jalan yang telah menyisihkan uangnya dalam hal berdonasi untuk kegiatan sosial ini dan terima kasih kepada seluruh kader Komisariat Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Brawijaya yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

“Untuk Pengguna Jalan yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, terima kasih banyak atas bantuannya untuk korban bencana dan juga kami ucapkan terima kasih kepada seluruh kader HMI KISIP UB yang telah berpartisipasi dalam kegiatan kemanusiaan ini”, tutupnya.

Pewarta: Esa Satrio

Penulis: M Yusuf Kelirey

Editor: Reny Tiarantika

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...