Langsung ke konten utama

Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam Adakan Sekolah Anggaran Periode 2020/2021

 

Dokumentasi: lapmimalang/ Muhaimin M.

Malang, LAPMI – Pada Hari Sabtu, (10/04/21 , Pukul 08.00 WIB di Gedung DPRD Kota Malang, Jl. Tugu No.1A, Kiduldalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam (LEMI) HMI Cabang Malang melaksanakan kegiatan Sekolah Anggaran dengan tema kegiatan “Pelembagaan Akuntabilitas Sosial Untuk Masyarakat  yang Transparan dan Partisispatif.

Direktur terpilih LEMI, Munif Tobi mengatakan bahwa kehadiran Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam (LEMI ) ini diharapkan dapat mewadahi Kader HMI cabang Malang dalam hal pengembangan tentang isu-isu kajian perekonomian yang terjadi secara aktual dan transparan baik regional dan nasional.

Kegiatan Sekolah Anggaran ini, akan dilaksanakan selama dua hari yaitu pada Hari Sabtu – Minggu, 10 – 11 April 2021, pada hari pertama acara sekolah anggaran materi yang disampaikan meliputi perancangan APBD, akuntansi sektor publik, dan serta pengadaan anggaran dan penganggaran. Menurut pendapat dari Direktur LEMI, Munif Tobi mengatakan “Pembangunan perekonomian ini sebagai patron pengawalan anggaran daerah, fungsinya sebagai pengawalan APBD dan penganggaran daerah pada kota Malang”, jelasnya. 

LEMI juga akan mengawal isu UMKM dan Enterpreneurship di Kota Malang, “Adapun kegiatan progran kerja LEMI meliputi: Sekolah anggaran, penjurnalan serta perekomendasian ekonomi pembangunan Kota Malang, advokasi anggaran daerah kota Malang”. Ini merupakan salah satu contoh dari konteks kegiatan yang akan dikerjakan oleh LEMI cabang Malang tutur Munif Tobi

“Harapan dari kegiatan sekolah anggaran ini yaitu mengambil insight dan edukasi pemahaman baru dari proses pembangunan ekonomi serta proses pembangunan daerah melalui perancangan APBD baik sebagai patron kritis dan intelektual yang tujuannya untuk pembangunan ekonomi kota Malang”, tambah Munif Tobi.

Penulis: Esa Satrio

Editor: Reny Tiarantika




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...