Langsung ke konten utama

Jualan Bunga Sejak Tahun 93, Ini adalah Tahun Terburuk Bagi Ibu Supatemi

Dokumentasi: lapmimalang/ Ridwan

Malang, LAPMI - Pandemi yang tak kunjung usai sangat berimbas pada penjualan tanamanan bunga Ibu Supatemi warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu. Baginya dua tahun terakhir ini adalah tahun terburuk selama ia menjalani usahanya sebagai penjual bunga. Senin, (13/09/21)

Pada awal Pandemi di tahun 2019 Ibu Supatemi sudah merasakan penjualan bunga miliknya mengalami penurunan hingga 75%, namun baginya tahun ini adalah tahun yang lebih berat, bagaimana tidak penurunan penjualan bunganya cukup drastis karena pandemi belum kunjung usai dan usaha bunga miliknya sepi dikunjungi para wisatawan.

Ia mengatakan bahwa di saat awal pandemi penjualannya masih cukup ada pengunjung yang datang, khususnya di akhir pekan Sabtu Minggu bahkan sampai pada hari Senin biasanya masih ada yang selalu mampir di toko bunga miliknya walaupun tidak terlalu ramai, namun di tahun 2021 ini bahkan sering dalam satu hari tidak ada satu orangpun pembeli yang datang.

"Sepi banget mas, gk ada sama sekali kemarin itu, biasanya hari Sabtu, Minggu, Senin kaya gini masih ada pengunjung ya walaupun hanya satu dua orang, tapi sekarang malah susah mas, kadang sering juga dalam sehari gak ada pengunjung sama sekali" Tutur Ibu Supatemi"

Ia juga berharap pandemi segera berlalu, dan penjualan bunga miliknya kembali normal seperti semula, karena sudah cukup lama baginya bersabar dengan cobaan seperti ini, ia juga tetap bersyukur walaupun ditengah kondisi seperti ini yang terpenting baginya adalah kesehatan yang masih ia rasakan hingga saat ini.

"Ya harus sabar aja mas, intinya semoga pandeminya cepat selesai, dan semoga semuanya kembali normal, kasian juga mas kalau gini terus, kasian pemerintahnya juga apalagi masyarakatnya pasti kesusahan cari makan kalau keadaannya kaya gini terus mas, tapi yang penting ya harus tetap sabar, kalau saya sih sudah syukur mas karena yang paling penting bagi saya ya kesehatan saya dan keluarga"  Tegasnya.

Penulis: Rajab A.

Editor: Reny Tiarantika

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...