Langsung ke konten utama

Kematian Vanessa Angel Menyisakan Duka, Begini Isi Pesan Terakhirnya pada Sang Buah Hati

Dokumentasi: Instagram Vanessa Angel


Malang, LAPMI - Kabar duka kembali menyelimuti industri hiburan Tanah Air. Artis Vanessa Angel dan suaminya Febri Ardiansyah dikabarkan meninggal dunia.

Mereka mengalami kecelakaan di ruas Tol Jombang KM 672, Jawa Timur. Dalam insiden tersebut, Vanessa dan suaminya dikabarkan tewas.  (4/11/2021).

Tidak hanya Vanessa Angel, dalam kecelakaan tersebut, sang suami, Bibi Ardiansyah juga ikut merenggut nyawa.

Melansir dari berbagai sumber, sebelum kepergian Vanessa Angel dan Bibi Ardiansyah, mereka juga sempat membuat sebuah rekaman berisi 'pesan' untuk sang buah hati, Gala Sky Ardiansyah.

Dalam rekaman tersebut, sambil menangis Vanessa Angel berharap agar putranya bisa mengetahui jika dirinya dan Bibi Ardiansyah sangat menyayangi dan mencintai Gala putra semata wayangnya itu.

"Yang mami lakuin di masa lalu, semoga Gala bisa ngerti, kalau mami sayang sama Gala, semoga Gala bangga sama mami, semoga Gala bisa tahu perjuangan mami sama papi dulu seperti apa," ucap Vanessa Angel.

Tidak hanya itu dalam rekaman tersebut Vanessa Angel juga meminta maaf kepada putranya jika selama ini belum bisa menjadi sosok ibu yang baik untuknya.

"Maafin mami kalau mami belum bisa jadi ibu yang baik, tapi mami selalu berusahja buat jadi ibu terbaik," kata Vanessa Angel.

Dilanjut dengan pesan dari Bibi Ardiansyah yang membeberkan perjuanga Vanessa Angel membesarkan sang putra meski saat itu sang ibu sedang menjalani hukuman

"Dia saat dipenjara pun, maksain buat pompa asinya demi kamu, apapun yang dia lakuin buat kamu, dia sayang, dia cinta sama kamu," kata Bibi Ardiansyah kepada Gala.

Oleh karena itu, Bibi Ardiansyah meminta anak semata wayangnya untuk tetap menghormati dan menyayangi ibundanya.

"Tolong sayangi dia, hargain dia lebih dari kamu hargai papi mu ini, makasih ya nak," ujar Bibi Ardiansyah lagi.


Penullis: Rajab Abubakar

Editor: Bagus Satria

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...