Langsung ke konten utama

HMI Komisariat Insan Cita Unitri, Sukses Gelar Basic Training LK1

 

Dokumentasi : Agus Salim

Malang, LAPMIHimpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang, Komisariat Insan Cita Unitri, Universitas Tribhuwana Tunggadewi, sukses menggelar Basic Training Latihan Kader 1 (LK1) di Graha Yakusa, Banjarejo, Kabupaten Malang pada Senin, tanggal 24 sampai Rabu, 26 Januari 2022.

Agenda yang berlangsung selama tiga hari tersebut diikuti oleh 16 peserta termasuk 1 kader titipan dari komisariat lain. Sabtu, (29/01/22)

Adapun harapan ketua umum pasca digelarnya basic training ini adalah para kader mampu belajar dan berproses lebih baik untuk masa depan pribadi mereka maupun masa depan organisasi.

"Yang selalu saya tekankan kepada para kader adalah, mereka jangan sampai putus untuk berproses karena bagi saya belajar itu tidak ada habisnya, dan mereka harus punya goal tersendiri dalam proses tersebut, baik untuk pribadi mereka maupun untuk keberlangsungan organisasi kedepannya" tegas Dekick Jacinda One Alvina, Ketua Umum HMI Komisariat Insan Cita.

Mahbub Djunaidi selaku ketua pelaksana juga berharap para peserta yang telah mengikuti Basic Training ini agar kedepannya berproses lebih maksimal dalam mengembangkan potensi pribadi dan untuk mewujudkan tujuan HMI.

"Ya harapan saya agar kawan-kawan peserta ini kedepannya bisa berproses semaksimal mungkin untuk mengembangkan potensi-potensi mereka masing-masing, dan juga untuk mewujudkan tujuan HMI itu sendiri" pungkasnya

Salah satu peserta juga menyampaikan kesannya setelah mengikuti agenda ini ia merasa banyak hal yang didapatkan, salah satunya adalah dalam hal penguatan mental.

"Alhamdulillah selama tiga hari saya mengikuti LK 1 ini, saya merasa banyak hal yang saya dapatkan terutama diwilayah penguatan mental fisik dan ilmu pengetahuan, walaupun setelah LK1 ini saya juga semakin sadar bahwa banyak hal yang saya belum ketahui, tetapi harapan kedepannya agar para pengurus tetap memfasilitasi kami untuk mempunyai wawasan yang luar biasa" ungkap Fajar Sodiq.


Penulis : Agus Salim & Ridwan Abdullah 
Editor : Ai Novia Hasna Afifah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...