Langsung ke konten utama

Sambut Bulan Suci Ramadhan, HMI Cabang Yogyakarta Laksanakan MUSLEM LAPMI Untuk Jaga Semangat Literasi

Dokumentasi: Ammar Mahir Hilmi

Malang, LAPMI - Dalam upayanya untuk menjaga semangat literasi bagi para kadernya, HMI Cabang Yogyakarta melalui bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi menyelenggarakan Musyawarah Lembaga (MUSLEM) Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) di gedung pusat kebudayaan Lafran Pane, Kota Yogyakarta, Sabtu-Minggu, 2-3 April 2022. Hasil dari musyawarah lembaga ini salah satunya yaitu memutuskan dan menetapkan saudara Nasruddin sebagai formatur/direktur utama LAPMI Sinergi HMI Cabang Yogyakarta untuk peridoe 2022-2023.

Selain untuk menyambut momen bulan suci Ramadhan, diselenggarakannya musyawarah ini juga bertujuan untuk mengaktifkan kembali LAPMI Sinergi yang sempat vakum dalam beberapa tahun terkahir ini. Saudara Agung Pranoto selaku ketua bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi (KPP) HMI Cabang Yogyakarta sekaligus tim karateker yang menisiasi terselenggaranya MUSLEM ini dalam keterangannya mengatakan bahwa terselenggaranya musyawarah ini sebagai jawaban atas keresahan tidak terwadahinya kader-kader HMI Cabang Yogyakarta dalam berproses dan mengaktualkan potensinya. Selain itu, kembali aktifnya LAPMI Sinergi ini diharapkan akan menjadi ruang berproses bagi para kader yang mempunyai minat di bidang literasi dan jurnalistik.

“Kevakuman LAPMI Sinergi HMI Cabang Yogyakarta tentu menjadi keprihatinan bersama. Kevakuman LAPMI Sinergi telah merampas banyak potensi banyak kader yang seharusnya diwadahi oleh LAPMI untuk bisa menjadi ruang berproses dan berkarya kader.” ucap Agung pada penyampaian general report di sela-sela acara. “Alhamdulillah di awal bulan suci ini kita bisa melaksanakan MUSLEM LAPMI Sinergi. Tentu ini harus disambut baik oleh banyak pihak karena memang banyak yang rindu kader-kader HMI bisa berkarya di LAPMI Sinergi.” ujarnya menambahkan.

Senanda dengan upaya menjaga semangat literasi, saudara Nasruddin selaku formatur/direktur utama LAPMI Sinergi dalam sambutan kemenangannya mengungkapkan akan pentingnya kehadiran media sebagai tindakan untuk mengekspresikan diri. Aktifnya Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Sinergi diharapkan akan menjadi wadah bersama sekaligus sebagai media alternatif untuk membendung banyaknya informasi-informasi yang muncul di tengah gempuran media sosial.

“Perlu adanya media atau wadah bersama sebagai tandingan karena hari ini kita terlalu sentral pada media konvensional yang hari ini dihadiri oleh penguasa. Melalui musyawarah ini, diharapkan kedepannya kita mampu menjadikan LAPMI sebagai media perjuangan kita sekaligus ekspresi keresahan kita selama ini yang mungkin tidak bisa kita ekspresikan.” Ungkap Nasruddin.

Menutup rangkaian agenda musyawarah, Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta Anas Kurniawan juga menekankan kemampuan kader dalam mengekspresikan diri dan mengungkapkan kegelisahannya dalam bentuk tulisan. “Yang kita butuhkan itu minat dan bakan menulis kader. Kemampuan menulis, kemampuan, mengkritisi, dan kemampuan melihat berbagai masalah yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Kata Anas.

Melalui wadah lembaga pers ini, diharapkan seluruh kader yang berada di bawah naungan HMI Cabang Yogyakarta utamanya yang berminat di bidang kepenulisan dan pers bisa secara bersama-sama meningkatkan kualitas diri dan memajukan komisariat masing-masing serta menjaga tradisi intelektual dari HMI Cabang Yogyakarta. “Kita sama-sama berproses di sini, kita sama-sama punya pengetahuan, kita sama-sama punya keresahan, sama-sama punya sesuatu yang ingin kita lakukan. Maka dari itu teman-teman yang mempunyai minat di bidang kepenulisan dan pers harapannya bisa berproses di LAPMI Sinergi untuk sama-sama meningkatkan kualitas diri, kualitas komisariat, dan menjaga kultur HMI Cabang Yogyakarta.” tutup Anas mengakhiri sambutannya sekaligus menutup secara resmi agenda musyawarah lembaga.

Penulis: Ammar Mahir Hilmi
Editor: Reny Tiarantika

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...