Langsung ke konten utama

Penutupan LK II HMI Cabang Malang, Kader Diharapkan Jadi Tombak Pengaderan

Dokumentasi: Panitia LK II HMI Cabang Malang

Malang, LAPMI - HMI Cabang Malang telah berhasil menyelesaikan penyelenggaraan Latihan Kader II (Intermediate Training) tingkat regional Jawa Timur yang ditutup pada hari Minggu, (29/05/2022). Acara yang di selenggarakan selama 7 hari tersebut bertempatkan di BPSDM Jawa Timur dan diikuti oleh 35 peserta yang berasal dari berbagai Cabang HMI yang berada di Jawa Timur.

Ketua Umum HMI Cabang Malang, Kanda La Rian, mengungkapkan harapan kepada peserta yang telah mengikuti Latihan Kader II ini agar dapat mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh saat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan di cabang atau komisariat mereka sendiri dan juga mampu untuk memotivasi kader-kader yang belum mengikuti LK II agar segera dapat mengikuti jenjang training formal tersebut.

Selain itu, Ia juga menambahkan agar peserta dapat menjadi ujung tombak pengaderan.

“Saya berharap agar para peserta dapat menjadi ujung tombak pengaderan di HMI, mereka bisa membenahi, mempelopori semangat belajar kader, agar HMI dapat kembali menjadi organisasi yang kental dengan nuansa intelektualnya dan juga jangan sampai mereka hilang atau kabur dari aktivitas organisasi HMI sehingga kemudian hari dapat menjadi pemimpin-pemimpin HMI yang selanjutnya ”

Kegiatan yang sedari awal diiniasiasi oleh pengurus HMI Cabang Malang ini mengusung tema “Terbinanya Kader HMI yang Mempunyai Kemampuan Intelektual untuk Memetakan Peradaban dan Memformulasikan Gagasan dalam Lingkup Organisasi”

“Harapan saya untuk pengurus tetap semangat, tetap solid, tetap berkolaborasi dan tetap dalam satu barisan karena pasca LK II ini masih banyak kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan oleh cabang melalui bidang-bidang yang ada” Pungkas La Rian.

Penulis: Tahta Reza Gramang Aputaka
Pewarta: Layla Arfiyah, Ai Novia H
Editor: Reny Tiarantika

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...