Langsung ke konten utama

HMI Cabang Malang Luncurkan Program "Penggerak Pariwisata dan Lingkungan" gandeng POKDARWIS Kota Malang

Penandatanganan MOU HMI Cabang Malang bersama POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata) Kota Malang

Malang, LAPMI - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MOU) dengan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Kota Malang pada hari Kamis, 28 Februari 2025. Penandatanganan yang berlangsung di Gedung MCC Malang ini bertujuan untuk meningkatkan kolaborasi dalam pengelolaan dan pengembangan destinasi wisata berbasis lingkungan yang berkelanjutan.

Ketua Umum HMI Cabang Malang, Idham Mirdan menyampaikan bahwa MOU ini menjadi langkah konkret dalam menjawab tantangan pembangunan pariwisata di Kota Malang yang lebih ramah lingkungan dan inklusif. "Kami dari HMI Cabang Malang berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam pembangunan masyarakat, khususnya dalam sektor pariwisata. Kerja sama ini kami harap dapat menciptakan sinergi antara mahasiswa, komunitas, dan masyarakat dalam mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan di Malang," ujarnya.

Ketua POKDARWIS Kota Malang, Ki Demang menambahkan bahwa penandatanganan MOU ini menjadi sebuah momentum penting untuk memperkuat kerjasama antara kelompok sadar wisata dengan berbagai pihak terkait. "Kami sangat mengapresiasi langkah ini. Dengan adanya kerjasama dengan HMI, kami optimistis dapat mengembangkan potensi pariwisata di Kota Malang dengan tetap menjaga kelestarian alam dan kebudayaan lokal," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Lingkungan Hidup HMI Cabang Malang, Alamsyah Gautama menjelaskan bahwa dalam MOU ini, pihaknya akan fokus pada pengembangan destinasi wisata yang ramah lingkungan, seperti pengelolaan sampah di lokasi wisata, serta penghijauan di kawasan wisata. "Salah satu program utama kami adalah menjaga keseimbangan antara pembangunan pariwisata dan pelestarian alam. Dengan kerjasama ini, kami berharap bisa memperkenalkan konsep wisata yang berkelanjutan kepada masyarakat," ujar Alamsyah.

Ketua Bidang Pariwisata dan Budaya HMI Cabang Malang, Rajis Wardi, menambahkan bahwa salah satu tujuan utama MOU ini adalah memperkenalkan dan mempromosikan potensi budaya lokal yang ada di Kota Malang. "Kami juga ingin memperkenalkan budaya Malang yang kaya kepada wisatawan. Melalui sinergi ini, kami berharap bisa memperkenalkan lebih banyak destinasi wisata budaya yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara," ungkap Rajis.

Sementara itu, Kepala Bidang Tata Kelola Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Tri Santoso menyambut baik inisiatif ini dan mendukung penuh kolaborasi antara HMI dan POKDARWIS. "Kami di DLH Kota Malang mendukung penuh langkah ini, terutama yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan di kawasan wisata. Kami siap memberikan asistensi terkait regulasi dan kebijakan yang ada untuk memastikan pariwisata di Kota Malang berjalan sesuai dengan prinsip keberlanjutan," ungkap Tri Santoso.

Dalam perspektif akademik, Dr. A. Faidlal Rahman, SE.Par., M.Sc., CHEA., CH., Tourismologist Universitas Brawijaya Malang, menyatakan bahwa kerjasama ini menjadi peluang besar untuk mengembangkan model pariwisata yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat dan keberlanjutan. "Melihat tren pariwisata saat ini, keberlanjutan menjadi faktor utama yang harus diperhatikan. Kolaborasi antara HMI dan POKDARWIS ini merupakan langkah positif yang dapat memberikan dampak jangka panjang bagi ekosistem wisata di Kota Malang. Saya percaya, dengan pendekatan yang berbasis pada pelestarian alam dan budaya lokal, Malang dapat menjadi contoh kota wisata yang berkelanjutan," ujar Dr. Faidlal

Penandatanganan MOU ini menjadi langkah awal untuk berbagai program bersama yang bertujuan untuk meningkatkan potensi pariwisata Kota Malang sekaligus menjaga kelestarian alam dan budaya. Diharapkan dengan kerjasama ini, baik mahasiswa maupun masyarakat dapat berperan aktif dalam menjaga dan mengembangkan pariwisata di Kota Malang dengan cara yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...