Langsung ke konten utama

Silaturahmi Akbar PTKP HMI Komisariat Se-Cabang Malang, Gelar Seminar “Demokratisasi di Indonesia; Pembajakan Demokrasi Melalui Transisi Kepemimpinan”

Seminar dan Silaturahmi Akbar PTKP HMI Se-Cabang Malang

Malang,LAPMI - Bidang PTKP (Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Kepemudaan) HMI Komisariat Se-Cabang Malang membangun kolaborasi dengan menggelar Seminar dan Silaturahmi Akbar yang bertajuk “Demokratisasi di Indonesia; Pembajakan Demokrasi Melalui Transisi Kepemimpinan”.

Agenda tersebut diselenggarakan di Pendopo Agung Kabupaten Malang Kepanjen pada hari Sabtu, 15 Februari 2025 dengan mengundang 2 narasumber, yaitu Muhammad Husni Ketua bidang PTKP HMI Cabang Malang dan Fais M Hamid S.sos., S.H,. Agenda tersebut juga dimeriahkan dengan penampilan pencak silat seni tunggal oleh salah satu kader HMI Komisariat Idham Chalid Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang.

Kartono Idris selaku Kabid PTKP Komisariat Idham Chalid UNIRA sekaligus inisiator dari agenda tersebut mengungkapkan, bahwa agenda Seminar dan Silaturahmi Akbar merupakan salah satu program kerja Bidang PTKP Komisariat Idham Chalid dan bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban semata, tetapi juga berangkat dari keresahan dirinya.

”Seminar dan Silaturahmi Akbar ini adalah salah satu program kerja Bidang PTKP Komisariat Idham Chalid, cukup terkesan luar biasa memang karena baru pertama kali menyelenggarakan kegiatan ini dengan melibatkan PTKP Komisariat Se-Cabang Malang. Tentu kegiatan ini bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban semata, tapi adalah salah satu program kerja yang sengaja dibuat karena berangkat dari bentuk keresahan saya sendiri. Saya melihat  HMI cabang malang dinilai cukup besar dan jumlah Komisariatnya lumayan banyak kalau tidak salah berkisar 48 Komisariat. Kresahan yang dimaksud adalah kita mengetahui bahwasanya PTKP adalah pengurus bidang yang lingkup kerja di lapangan atau bisa dibilang intelnya komisariat, sehingga ruang geraknya tidak hanya dalam komisariat tapi diluar dari itu.” Ungkapnya

Selain itu, Muhammad Husni selaku Kabid PTKP HMI Cabang Malang yang juga hadir sebagai narasumber dalam paparan materinya menilai, bahwa demokrasi di Indonesia masih sentral pada birokrasi bukan pada kehendak rakyat.

"Sesungguhnya Demokrasi di Indonesia masih sentral pada birokrasi bukan pada kehendak rakyat, mestinya sebagai negara Demokrasi kekuasaan dan kewenangan tertinggi lahir dari nafas dan kepentingan rakyat bukan kepentingan elit dan atau sekelompok orang. Maka dapat di simpulkan bahwa demokrasi sistem di Indonesia secara substansial sudah benar karena ada pemilihan langsung namun banyak hal dalam praktek demokrasi lebih cendrung pada Otoritarian sistem". Ungkapnya

Ia juga berharap tradisi intelektual seperti dalam kegiatan tersebut terus dijaga dan dan dirawat untuk memahami isu yang berkembang di bangsa ini.

”Harapannya tradisi intelektual seperti ini terus dijaga dan dirawat di HMI, sebagai modal untuk menganalisa, memahami setiap isu yg berkembang di bangsa ini serta HMI secara institusi terus bergerak dan menjadi bagian dari kelompok yang dapat merepresentasikan kepentingan rakyat.” Pungkasnya


Penulis: Rajis Wardi

Editor : Agus Salim

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...