Langsung ke konten utama

KOHATI Komisariat UNITRI Gelar Latihan Dasar Kohati; Upaya Membentuk Karakter Perempuan-Perempuan Tangguh

 

Foto bersama para peserta LDK
HMI Komisariat UNITRI (KOMUNI)


Malang, LAPMI - Korps HMI-Wati (KOHATI) Komisariat UNITRI (KOMUNI) gelar Latihan Dasar Kohati dengan tema “Terbinanya HMI-Wati yang Memiliki Kemampuan Intelektual, Emosional, dan Spiritual Guna Menopang Transformasi Sosial serta Menyongsong Indonesia Emas 2045” yang digelar di Graha Yakusa Kabupaten Malang pada Sabtu-Minggu, 17-18 Mei 2025.

Latihan tersebut diikuti oleh 17 peserta yang terdiri dari kader HMI-Wati lintas komisariat, diantaranya Komisariat Jabal Thareeq ITN, Ki Hadjar Dewantara UIBU, FMIPA UM, Tarbiyah UIN Maliki, Jenderal Sudirman UPN Surabaya, dan Komiariat UNITRI sendiri.

Nurul Asmalia selaku ketua pelaksana mengungkapkan bahwa LDK merupakan fondasi penting untuk membentuk karakter Perempuan-perempuan Tangguh.

“Latihan Dasar KOHATI bukan hanya sekadar proses kaderisasi awal, melainkan fondasi penting dalam membentuk karakter perempuan-perempuan tangguh yang memiliki visi, intelektualitas, serta semangat kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. Di dalam LDK, para KOHATI tidak hanya dibekali dengan pemahaman tentang sejarah, ideologi, dan peran strategis perempuan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi juga diajak untuk menyadari pentingnya peran mereka sebagai agen perubahan”. Ungkapnya

Ketua Umum KOHATI Komuni Sahidatul Atiqah juga menegaskan, LDK yang diselenggarakan adalah Upaya untuk menguatkan kesadaran teman-teman HMI-wati dalam berperan aktif di organisasi, gerakan maupun kegiatan kemasyarakatan terutama di wilayah isu-isu keperempuanan.

“Latihan dasar kohati merupakan agenda tahunan dari kohati komuni. ada beberapa latar belakang agenda ini kami inisiasi yaitu: melihat minimnya forum atau training informal di dalam tubuh KOHATI terutama di cabang Malang, mengkonsolidasikan kembali semangat dan kesadaran teman-teman HMI-wati dalam berperan aktif di organisasi, gerakan maupun kegiatan kemasyarakatan terutama di wilayah isu-isu keperempuanan yang mana akhir-akhir ini mulai menurun”. Tegasnya.


Penutupan Latihan Dasar Kohati (LDK)
HMI Komisariat UNITRI (KOMUNI)

Ia juga berharap peserta dapat mengaktualisasikan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari.

“Harapannya setelah kegiatan ini peserta yang telah tuntas mengikuti LDK mampu mengaktualisasikan ilmu-ilmu yang didapatkan di dalam kehidupan sehari-hari, di kampus maupun masyarakat serta menstimulus teman-teman peserta untuk terus mengikuti training dan forum lainnya dalam ikhtiar untuk mencerdaskan diri sendiri”. Harapnya

Di sisi lain, Fahrur Rozi selaku Ketua Umum HMI Komuni juga mengaskan bahwa LDK merupakan momentum KOHATI Komuni untuk menjaga Relevansinya sebagai Wadah Akselerasi mewujudkan Tujuan HMI.

"Setiap Organisasi membutuhkan Momentum untuk maju dan berkembang pesat, maka dengan ini LDK Komuni 2025 Harus menjadi Momentum untuk KOHATI Komuni untuk menjaga Relevansinya sebagai Wadah Akselerasi mewujudkan Tujuan HMI". Tegasnya.


Editor   : Muhammad Ali Makki


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...