Langsung ke konten utama

Arsitektur sebagai Sarana Pelestarian Rumah Adat : Interaksi Budaya Lintas Generasi Menembus Ruang dan Peradaban (Beyond Interaction).

 

Bara Andana Subagyo
(Kabid PPPA HMI Komisariat Jabal Thareeq)


Malang, LAPMI- Di era disrupsi informasi seperti sekarang, setiap peradaban menghadapi dilema besar. Arus informasi yang mengalir tanpa batas mendorong modernisasi yang berlangsung nyaris tanpa jeda. Dalam dunia arsitektur, hal ini membuka peluang sekaligus ancaman perkembangan terus terjadi, tetapi pada saat yang sama, nilai-nilai luhur tradisional terancam tenggelam. Ketika arsitektur lokal kehilangan tempatnya, manusia pun kian jauh dari jati diri, lingkungan, dan budayanya sendiri.

Begitu juga dengan arsitektur, tanpa adanya upaya penyegaran maka semakin hilang tenggelam zaman . Kita sebagai masyarakat akan tidak kenal terhadap diri dan lagamnya. Menggali dan mengungkap jati diri arsitektur Indonesia serupa saja halnya dengan menjelajahi perjalanan budaya dan peradaban masyarakatnya. Perlunya kita setidaknya menjamah pengetahuan itu, sehingga interaksi kebudayaan tersebut tidak terputus, terus berjalan secara dinamis seiring dengan perkembangan zaman. Seperti menurut Mangunwijaya (1992, hal.106), “Namun janganlah hendaknya kita mengira, seolah-olah alasan-alasan gaib, mistis atau magis itu satu-satunya alasan atau pedoman berarsitektur bagi manusia kuna. Mereka pun cerdas dalam menganalisa realita dan penanganan praktis permasalahan permukiman serta bangunan-bangunan”

Hadirnya Arsitektur nusantara terjadi secara alamiah dan wajar, melalui terhadap lingkungan melahirkan suatu ide yang disepakati secara bersama. Melahirkan norma berupa aturan sistematis mengenai pandangan hidup semesta (kosmologi) hingga melahirkan tradisi. Kata tradisi berasal dari bahasa Latin traditionem, dari traditio yang berarti "serah terima, estafet", dan digunakan dalam berbagai cara berupa kepercayaan atau kebiasaan yang diajarkan atau ditularkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Proses arsitektur lahir dari percikan ide bertemu dengan masalah secara alamih menciptakan proses pemecahan masalah. Misalnya masalah iklim menjadi masalah bersama dalam arsitektur, setiap tempat memiliki caranya tersendiri menghadapi iklim. Menggunakan atap dengan bentuk verhang (lonjong) baik itu keatas maupun kesamping. Seperti pada uma mbatangu dan bokulu kepulauan sumba, tanian lanjhang di madura, Joglo di jawa dan sebagainya.

Dari berbagai suku bangsa yang mendiami berbagai daerah di Indonesia, sejak berabad-abad lamanya telah membentuk karakteristik budaya dan arsitektur masing-masing. Itulah sebabnya terjadi aneka ragam bangunan tradisional mulai dari bentuk yang sederhana, hingga bentuk yang sempurna yang berdiri berkelompok maupun yang tunggal, masing-masing mempunyai ciri khas atau kekhususan sesuai pandangan masing-masing suku. Perkembangan arsitektur tradisional bersamaan dengan perkembangan suatu suku bangsa, menjadikannya identitas dari suatu suku atau masyarakat yang mendukungnya, dan dalam arsitektur tradisional tercermin kepribadian masyarakat pendukungnya. (Lullulangi dan Sampebua‟ 2007 :10).

Pertanyaannya ialah, Bagaimana membawa pengalaman budaya tersebut kepada generasi sekarang dan mendatang? Tentu perlu sebuah kesadaran bersama dari berbagai lini sosial. Namun yang berperan penting ialah dalam ranah akademis. Kaum terpelajar, jajaran pengajar, Mahasiswa dan lain-lain serta didukung oleh pihak instansi sendri baik itu perguruan tinggi, instansi, bahkan pemerintah. peran akademisi sangat diperlukan dalam upaya pelestarian/konservasi bangunan adat dengan memiliki kewajiban melaksanakan aktivitas penelitian dan pengembangan.

Pendidikan dan teknologi bekerja sebagai mediator sekaligus katalisator membawa nilai-nilai kolektif lintas generasi dalam bentuk baru. Namun teknologi kerap terjebak dalam pusaran kapitalisasi dipakai sebatas alat produksi massal, komodifikasi gaya, atau visualisasi arsitektur demi kepentingan industri. Arsitektur tradisional pun tak luput dari eksploitasi ini dikemas dalam bentuk tiruan estetis tanpa makna, kehilangan konteks sosial budayanya.

Arsitektur tradisional tidak semata hadir untuk eksistensi visual, tetapi juga harus menjelma sebagai ruang interaksi dan dialog budaya yang melampaui batas ruang dan waktu. Maka, jati diri arsitektur kultural terbentuk bukan dari konstruksi instan, melainkan melalui proses interaksi budaya yang hidup dan terus berkembang. Beyond Interaction bukan hanya konsep, tetapi cara pandang bahwa pelestarian warisan bukanlah nostalgia masa lalu, melainkan jembatan menuju masa depan.

Masyarakat Sumba bisa mengenali dirinya lewat atap-atap menjulang yang menantang langit masyarakat Jawa memaknai budayanya melalui ruang yang sarat filosofi sementara masyarakat Madura menemukan semangat juangnya dalam keteguhan struktur rumahnya. Di balik keragaman rupa tersembunyi pesan-pesan lintas generasi yang menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan, melainkan peristiwa hidup yang terus tumbuh dan bertransformasi.

Arsitektur tradisional tak semestinya lekang oleh zaman, tak boleh larut oleh derasnya nilai-nilai asing. Justru, ia harus hadir sebagai tonggak identitas yang kokoh, menjadi representasi budaya yang mampu menembus batas ruang dan peradaban. Sayangnya, di tengah gelombang globalisasi, kita sebagai bangsa kerap kehilangan arah terlalu adaptif hingga kehilangan bentuk, terlalu terbuka hingga lupa pada akar. Maka, arsitektur bukan hanya soal bangunan, tetapi ruang perjumpaan: antara masa lalu dan masa depan, antara warisan dan inovasi, antara jati diri dan dunia.


Penulis : Bara Andana Subagyo
Editor   : Ai Novia H


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...