Langsung ke konten utama

Grand Final Duta Fakultas Syariah 2025: Dua Belas Finalis Adu Gagasan, Rania Soroti Keadilan di Kampus

Rania (Winner Putri Duta Fakultas Syariah 2025)

Malang, LAPMI - Aula Gedung C lantai 3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Kamis malam (11/12/2025), menjadi ruang ujian gagasan dan karakter. Grand Final Duta Fakultas Syariah 2025–2026 menutup rangkaian seleksi panjang yang menuntut intelektualitas, ketepatan bicara, serta kapasitas kepemimpinan dari para finalis.

Dengan tema “Fostering an Innovative and Progressive Generation Based on Sharia Values”, acara ini tidak hanya menilai penampilan, para finalis ditantang merespons isu-isu strategis kampus melalui sesi question and answer bersama tiga juri:  Aditya Prastian Supriyadi (akademisi UIN Malang), (Duta GenRe Jawa Timur) Kirana Kasih Adda, dan (Duta Parekraf Jawa Timur) Nabilah Ulil Fikriyah.

Salah satu momen paling disorot datang dari pidato kemenangan Rania, mahasiswa IAT yang keluar sebagai Winner Putri Duta Fakultas Syariah 2025. Dalam speech nya, ia mengusung isu keadilan di lingkungan pendidikan.

“Mahasiswa harus memastikan bahwa kampus adalah lingkungan yang adil—tempat di mana potensi dapat tumbuh tanpa hambatan, kesempatan hadir setara, dan fasilitas menjadi jembatan, bukan penghalang. Kampus bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang pembentukan cara berpikir, karakter, dan nilai masa depan” tegas rania.

Usai acara, kepada wartawan LAPMI, Rania menuturkan proses yang ia jalani.

“Banyak sekali yang aku dapat. Dari seleksi awal, bertemu juri, sampai belajar dari sesama finalis—semua itu menguatkan rasa tanggung jawab untuk terus berkembang,” ujarnya. “Yang paling aku pelajari adalah pentingnya memberikan ruang setara bagi semua orang untuk menunjukkan potensinya. Dari situ tumbuh kesadaranku tentang keadilan sosial dan pentingnya kesempatan merata, baik dalam belajar, berkarya, maupun berkontribusi secara ekonomi.”

Rania menutup wawancara dengan rasa syukur. “Gelar ini amanah, dan aku ingin menghadirkannya sebagai manfaat yang luas”


Daftar Lengkap Peraih Gelar dan Nominasi

Selain Winner dan Runner-Up, sejumlah nominasi diberikan kepada finalis yang menonjol pada aspek tertentu. Berikut penjelasan setiap gelar serta nama penerimanya:

Winner Duta Fakultas Syariah 2025
Putra: Muhammad Faiz Nurul Amin (ILHA)
Putri: Rania (IAT)

Runner-Up 1
Putra: Muhammad Rafi Otman (HKI)
Putri: Alfil Laila (IAT)

Runner-Up 2
Putra: Muhammad Azhar (IAT)
Putri: Azzahra Raudatul Jannah (IAT)

Kategori Favorit 
Putra: Fariz Abdul Aziz
Putri: Dwi Loka Putih Nusantara

Kategori Berbakat 
Putra: Muhammad Azmil Baihaqi
Putri: Wike Erfa Ilmida Agustina

Kategori Intelegensia 
Putra: Bilal Al Qodri
Putri: Fatihatin Hasanah


Perwakilan panitia sebelumnya, Muhammad Aldi Saputro, mengatakan dinamika selama persiapan menjadi proses belajar yang penting. “Koordinasi antar-divisi menantang, tapi semua terbayar ketika acara berjalan rapi dan meriah”

Grand Final ini menegaskan bahwa mahasiswa Fakultas Syariah tak hanya berbicara nilai, tetapi juga menagih keadilan, mengeksekusi gagasan, dan membawa fakultas bergerak menuju ruang publik yang lebih kompetitif.


Pewarta : Muhamad Syauqi Mubarok
Editor     : Ai Novia H



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...