Langsung ke konten utama

HMI Cabang Malang Komisariat Ki Hadjar Dewantara Berhasil Mencetak 25 Kader sebagai Bentuk Regenerasi Kepemimpinan Selanjutnya

Foto 25 kader baru bersama panitia LK 1 dan kepengurusan HMI Cabang Malang Kom Ki Hadjar Dewantara (Dok: Amrozi/Lapmihmimalang)

Malang, LAPMI - HMI cabang malang Komisariat Ki Hadjar Dewantara berhasil melaksanakan Basic Training Latihan Kader 1 (LK-1) yang bertempat di Graha Insan Cita 1, Jl. Soekarno Hatta, yang diikuti oleh 25 peserta pada tanggal 07 Desember 2025 dengan tema : “Terbinanya Kepribadian Muslim yang Berkualitas Akademis Sadar akan Fungsi dan Peranannya dalam Berorganisasi Serta Hak dan Kewajibannya sebagai Kader Umat dan Kader Bangsa”

Kegiatan Latihan Kader 1 adalah orientasi awal bagi mahasiswa baru untuk membentuk karakter kepemimpinan, nalar kritis, serta responsif terhadap isu-isu sosial yang terjadi, kegiatan ini berlangsung dari tanggal 05-07 Desember 2025.

“Selamat datang dan selamat bergabung di rumah intelektual Himpunan Mahasiswa Islam, LK-1 ini adalah gerbang awal yang berhasil teman-teman buka menuju inkubator gagasan sebagai kader Himpunan” Ujar Muharam Amang sebagai Ketua Umum dalam Sambutannya

“HMI ibarat benda mati, temen-temen menjadi penggerak di dalamnya untuk terus eksis dalam kontribusi nyata bagi ummat dan bangsa”Tegasnya.

Pada kegiatan ini juga dihadiri oleh Ketua Umum HMI Cabang Malang yang di wakili Oleh Kabid Pariwisata Kanda Rajis Wardi untuk menutup Latihan Kader 1 Komisariat Ki Hadjar Dewantara.

“Dengan terselenggaranya LK-1 ini, kami berharap proses kaderisasi dapat terus berjalan secara berkelanjutan dan melahirkan kader-kader unggul yang siap membawa perubahan positif di masa mendatang” tegas Rajis Wardi dalam Sambutannya.

Pasca Latihan Kader 1 ini seluruh pengurus berharap peserta aktif dalam kegiatan HMI Komisariat Ki Hadjar Dewantara sebagai penerus regenerasi kepemimpinan yang selanjutnya.


Pewarta : Amrozi
Editor    : Taufiqurrahman

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...