Langsung ke konten utama

Integrasi Literasi Teknologi dan Etika Islam dalam Pembentukan Kader HMI di Era Digital

Rama Jhinggo/Penulis

Malang, LAPMI - Di era digital, perkembangan teknologi itu ibarat mesin yang berputar sangat cepat. Kalau kita tidak paham cara kerja mesinnya, kita bukan operator, tapi cuma penonton yang bisa kena imbas kalau mesin itu rusak. Maka dari itu, mencetak kader HMI berwawasan teknologi itu penting supaya kader HMI tidak cuma ikut arus, tapi bisa mengendalikan dan mengoptimalkan sistem.

Teknologi dalam konteks ini bisa diibaratkan sebagai mesin produksi. Mesin akan bekerja maksimal kalau operatornya paham fungsi, batas kerja, dan cara perawatannya. Kader HMI yang berwawasan teknologi berarti kader yang paham cara menggunakan teknologi secara efektif dan efisien, tahu risiko dan dampaknya, serta mampu memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan output yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.

Nilai-nilai keislaman berperan sebagai standar keselamatan kerja (K3) dan manual book. Tauhid adalah pondasi rangka mesin, akhlak adalah pelumas agar gesekan sosial tidak menimbulkan panas berlebih, dan etika Islam adalah sistem pengaman supaya mesin tidak over heat atau mengalami kegagalan fatal. Tanpa nilai-nilai ini, teknologi bisa disalahgunakan dan justru merusak sistem sosial.

Sebagai kader HMI, kemampuan teknologi tidak cukup hanya bisa “menghidupkan mesin”. Kader juga harus paham prinsip kerja bagaimana informasi bergerak, bagaimana data diolah, dan bagaimana teknologi memengaruhi perilaku masyarakat. Dengan pemahaman ini, kader HMI bisa menjadi problem solver, bukan sekadar pengguna, serta mampu merancang solusi yang tepat sasaran.

Di era digital yang penuh kebisingan informasi, hoaks, dan konflik, kader HMI harus berfungsi sebagai stabilisator sistem. Seperti flywheel pada mesin, kader HMI menjaga agar pergerakan sosial tetap stabil, tidak mudah bergetar oleh isu yang tidak jelas, dan tetap berjalan pada putaran yang benar sesuai nilai Islam.

Singkatnya, mencetak kader HMI berwawasan teknologi berlandaskan nilai-nilai keislaman itu seperti merakit mesin yang andal: materialnya kuat (ilmu dan skill), perakitannya presisi (intelektualitas dan kepemimpinan), dan sistem keamanannya lengkap (nilai Islam). Dengan mesin yang sehat dan terawat, kader HMI siap menghadapi tantangan era digital tanpa kehilangan arah dan tujuan perjuangan.


Penulis : Rama Jhinggo
Editor   : Ai Novia H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...