Langsung ke konten utama

Musyawarah Ke-V LEPPAMI HMI Cabang Malang Dorong Arah Baru Pariwisata Berkelanjutan

Foto bersama anggota LEPPAMI HMI Cabang Malang (Dok: Taufiqurrahman/Lapmihmimalang)

Malang, LAPMI – 25 Februari 2026, Musyawarah Lembaga (Muslem) Ke-V Lembaga Pariwisata dan Pecinta Alam Mahasiswa Islam (LEPPAMI) HMI Cabang Malang menjadi momentum refleksi, evaluasi, sekaligus penentuan arah baru organisasi dalam mendorong kontribusi nyata terhadap lingkungan dan pariwisata berkelanjutan di Malang Raya. Kegiatan ini bertempat di Kampung Maha Siswa, Dau, Kabupaten Malang. Dalam forum tertinggi lembaga ini untuk memperkuat peran strategis LEPPAMI dalam merespons tantangan kerusakan lingkungan dan tata kelola pariwisata yang berkelanjutan.

Demisioner Direktur Utama LEPPAMI Cabang Malang, Mijar Alif Fahmi, menyampaikan bahwa musyawarah tersebut bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan momentum kebangkitan lembaga dengan semangat dan arah gerak yang lebih terstruktur.

“Momentum Musyawarah Lembaga Ke-V ini, bagi saya, bukan sekadar agenda rutin organisasi. Ini adalah titik refleksi, evaluasi, sekaligus momentum kebangkitan,” kata Mijar dalam keterangannya.

Ia menambahkan, musyawarah tersebut menjadi simbol lahirnya kembali LEPPAMI Cabang Malang dengan energi baru, gagasan baru, dan orientasi yang lebih berdampak bagi lingkungan dan masyarakat. Menurutnya, setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan estafet perjuangan organisasi dengan kualitas yang lebih baik.

“Musyawarah ini adalah semangat lahir kembalinya LEPPAMI Cabang Malang dengan energi baru, gagasan baru, dan arah gerak yang lebih terstruktur serta berdampak,” ujarnya.

Dalam Musyawarah Ke-V ini, LEPPAMI mengusung tema “Arah Baru LEPPAMI: Kontribusi Nyata untuk Lingkungan dan Pariwisata Berkelanjutan di Malang Raya.” Tema tersebut menegaskan komitmen organisasi untuk memperluas perannya, tidak hanya sebagai komunitas pecinta alam, tetapi juga sebagai lembaga yang memiliki kesadaran intelektual, sosial, dan keislaman dalam mengawal isu lingkungan dan pengembangan pariwisata.

Mijar menjelaskan, Malang Raya yang meliputi Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang memiliki potensi pariwisata dan kekayaan alam yang besar. Namun, potensi tersebut juga dihadapkan pada tantangan serius, seperti kerusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya, serta tata kelola pariwisata yang belum sepenuhnya berkelanjutan.

“Di sinilah LEPPAMI harus mengambil peran strategis menjadi mitra kritis pemerintah, menjadi pelopor edukasi lingkungan, serta menjadi motor penggerak kesadaran mahasiswa dan masyarakat tentang pentingnya pariwisata berkelanjutan,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa arah baru organisasi tidak berarti meninggalkan identitas sebagai pecinta alam, melainkan memperluas makna kecintaan tersebut melalui upaya pelestarian, kajian, dan advokasi kebijakan lingkungan.

“Mencintai alam bukan hanya dengan menjelajahinya, tetapi juga menjaganya, mengkajinya, dan mengadvokasi kebijakan yang berpihak pada kelestarian,” kata Mijar.

Ia juga berharap Musyawarah Lembaga Ke-V mampu melahirkan kepemimpinan baru yang progresif, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak nyata, baik bagi organisasi maupun masyarakat luas. Kepemimpinan tersebut diharapkan dapat menempatkan LEPPAMI sebagai aktor penting dalam diskursus pembangunan pariwisata dan pelestarian lingkungan di Malang Raya.

“Saya berharap Musyawarah Lembaga Ke-V ini mampu melahirkan kepemimpinan yang progresif, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak,” ujarnya.


Pewarta : Amrozi
Editor     : Ai Novia H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...