Langsung ke konten utama

Presisi dalam Pukulan, Lalai dalam Perlindungan: Ketika Nyawa Anak Tak Seharga Wibawa

Mijar Alif Fahmi (Manusia Resah)

Malang, LAPMI - Kita hidup di zaman ketika kata presisi dielu-elukan sebagai simbol profesionalitas. Semuanya harus terukur, terencana, terarah. Tapi dalam tragedi meninggalnya seorang bocah akibat dugaan pemukulan oleh aparat, presisi itu terasa hadir di tempat yang salah. Pukulan bisa begitu tepat, begitu cepat, begitu “efektif”. Sayangnya, perlindungan justru tampak lambat, kabur, dan penuh jeda klarifikasi. Seorang anak kehilangan nyawa. Sebuah keluarga kehilangan masa depan dan publik kembali kehilangan kepercayaan.

Dalam setiap peristiwa kekerasan oleh aparat, selalu ada pola komunikasi yang hampir seragam: peristiwa terjadi, simpati disampaikan, investigasi dijanjikan, lalu istilah “oknum” diluncurkan seperti sabun pembersih citra. Kata itu seolah menjadi tembok pemisah antara individu dan institusi. Padahal, jika kekerasan terus berulang dalam rentang waktu berbeda dan lokasi berbeda, publik berhak bertanya: apakah ini sekadar kebetulan personal, atau ada kultur yang diam-diam mengizinkan kekerasan menjadi bahasa pertama?

Di bawah institusi sebesar Kepolisian Negara Republik Indonesia, kewenangan menggunakan kekuatan adalah mandat yang sah. Namun mandat itu bukan cek kosong. Ia dibatasi oleh hukum, oleh prinsip proporsionalitas, oleh standar hak asasi manusia. Sejak pemisahannya dari Tentara Nasional Indonesia di era reformasi, publik berharap lahirnya wajah kepolisian yang sepenuhnya sipil bukan hanya dalam struktur, tetapi juga dalam mentalitas. Harapannya sederhana: aparat hadir untuk mengayomi, bukan mendominasi; melindungi, bukan menakut-nakuti.

Kini, ketika oknum pelaku telah diberhentikan atau diproses pemecatan sebagai bentuk sanksi institusional, pertanyaannya belum selesai. Pemecatan memang penting sebagai konsekuensi etik dan administratif. Ia memberi sinyal bahwa tindakan tersebut tidak dibenarkan. Namun pemecatan saja tidak otomatis memulihkan nyawa yang hilang, dan tidak serta-merta mengembalikan rasa aman publik. Jika prosesnya tidak transparan, jika publik tidak mendapatkan kejelasan tentang mekanisme hukum pidananya, maka pemecatan bisa saja dipersepsikan sebagai langkah minimalis cukup untuk meredam amarah, tetapi belum cukup untuk menegakkan keadilan.

Negara tampak sangat tegas ketika berhadapan dengan warga yang dianggap melanggar. Proses hukum bisa berjalan cepat, narasi bisa dibangun rapi. Tetapi ketika aparat yang melampaui batas, prosesnya sering terasa lebih hati-hati, lebih defensif, lebih penuh pertimbangan citra. Seolah-olah yang harus diselamatkan pertama kali adalah reputasi institusi, bukan rasa aman masyarakat.

Pemecatan satu orang tidak akan berarti apa-apa jika akar persoalannya tetap dibiarkan. Apakah ada evaluasi menyeluruh terhadap pola pembinaan? Apakah standar penggunaan kekuatan diperketat? Apakah pengawasan eksternal benar-benar diberi ruang dan kewenangan yang independen? Tanpa jawaban konkret, publik hanya akan melihat satu bab yang ditutup, sementara buku yang sama siap menulis tragedi berikutnya.

Disisi lain yang paling krusial adalah jaminan perlindungan setelah ini. Masyarakat tidak hanya butuh pengumuman sanksi, tetapi juga kepastian bahwa mekanisme pencegahan diperkuat. Kepercayaan publik bukan dibangun dari konferensi pers, melainkan dari konsistensi tindakan. Transparansi proses hukum, keterbukaan hasil investigasi, serta reformasi internal yang nyata adalah fondasi untuk memulihkan legitimasi. Legitimasi kepolisian bukan berasal dari kewenangan memukul, melainkan dari kepercayaan publik. Kepercayaan itu lahir ketika warga merasa aman bahkan dalam situasi paling rentan. Jika anak-anak pun tidak lagi aman, maka rasa aman berubah menjadi kecemasan kolektif. Kecemasan yang dibiarkan akan berkembang menjadi ketidakpercayaan sistemik. Hari ini seorang bocah telah menjadi korban. Oknum pelaku mungkin telah dipecat. Tetapi pertanyaan yang menggantung jauh lebih besar: apakah setelah ini kita benar-benar lebih aman? Apakah reformasi berjalan sampai ke akar budaya kekuasaan, atau hanya berhenti pada pergantian nama di papan struktur organisasi?

“Presisi dalam Pukulan, Lalai dalam Perlindungan” bukan sekadar judul satir. Ia adalah peringatan. Jika presisi ingin dipertahankan sebagai identitas, maka presisi itu harus diarahkan pada perlindungan warga, pada akuntabilitas yang tegas, pada jaminan bahwa tidak ada lagi anak yang harus membayar mahal dengan nyawanya hanya karena berhadapan dengan aparat. Pada akhirnya, reformasi sejati bukan diuji dari seberapa cepat institusi memecat pelaku, tetapi dari seberapa kuat sistem mencegah kekerasan serupa terjadi lagi. Jika jaminan itu belum terasa nyata, maka yang tersisa hanyalah slogan dan luka yang belum sembuh.


Penulis : Mijar Alif Fahmi
Editor   : Amrozi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...