Langsung ke konten utama

Aktivis Lintas Ormek bahas Masa Depan Gerakan Mahasiswa Islam

Foto dokumentasi pemaparan materi pembahasan
/Dok: Istimewa
Malang, LAPMI Komunitas Semilir menggelar Collaborative Ramadhan Discussion bertajuk “Menjemput Masa Depan Gerakan Mahasiswa Islam” di Galeri Literasi Togamas Dieng, Kota Malang, Jumat (28/2/2026) pukul 15.30–17.30 WIB. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari sejumlah organisasi mahasiswa Islam untuk membahas dinamika sejarah, transformasi gerakan, serta arah keberpihakan sosial di masa depan.

Dalam forum tersebut, Fahrur Rozi, Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang, menegaskan bahwa sejarah pembangunan peradaban bangsa tidak terlepas dari peran intelektual & gerakan mahasiswa.

“Sejarah mencatat gerakan mahasiswa islam memberikan sumbangsih besar pada rumah besar Indonesia, sejak 1947 gerakan mahasiswa Islam aktif mewarnai dinamika pada bangsa ini, melawan penjajahan agresi militer Belanda, menyiapkan calon-calon pemimpin dan mengadvokasi kepentingan masyarakat rentan, namun sayang kontribusi dalam hal tersebut hari ini mengurang entah apa. Gerakan mahasiswa Islam sedang menghadapi fase kebuntuannya, semoga segera _recovery_ dan kembali pada Khittahnya yaitu berperan sebagai _pressure grup_ Kalo kita flashback pada historisnya, pergerakan mahasiswa dibangsa ini mengalami banyak sekali benturan-benturan ideologi dengan pergulatan yang sangat konfrontatif. Oleh karena itu, mahasiswa hari ini yang dikenal sebagai Rausan fikr - Agent of social change harus kembali ke koridor Pergerakan dan perkaderan yang tumbuh dimasyarakat, membersamai Masyarakat dan hadir untuk masyarakat bukan malah sebaliknya, seperti kebanyakan yang hari ini kita lihat,” ujar Rozi.

Ia menegaskan bahwa gerakan mahasiswa Islam saat ini tengah menghadapi fase penurunan kontribusi dan perlu segera melakukan pemulihan arah perjuangan. Menurutnya, mahasiswa harus kembali pada khittah sebagai pressure group yang konsisten mengawal kepentingan publik. “Mahasiswa hari ini yang dikenal sebagai rausan fikr dan agent of social change harus kembali ke koridor pergerakan dan perkaderan yang tumbuh di masyarakat, membersamai umat dan hadir untuk masyarakat, bukan malah sebaliknya seperti yang banyak kita lihat hari ini,” tegas Rozi.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang turut hadir sebagai narasumber menyoroti transformasi gerakan mahasiswa Islam saat ini. Ia menilai bahwa mahasiswa Islam perlu memperkuat kembali kapasitas intelektual sekaligus menjaga keberpihakan sosial dalam gerakan yang dibangun.

“Mahasiswa Islam hari ini harus menjadi intelektual yang berpikir tajam, aktivis yang bergerak strategis, dan kader yang jelas keberpihakannya,” ungkap kelfin.

Menurutnya, perpaduan antara ketajaman pemikiran, strategi gerakan, dan komitmen keberpihakan menjadi kunci agar gerakan mahasiswa Islam tetap relevan dalam menjawab berbagai persoalan bangsa. Menurutnya juga, keseimbangan antara aksi sosial dan tradisi literasi menjadi kunci agar gerakan mahasiswa Islam tetap relevan dan solutif dalam menjawab persoalan bangsa.

Pandangan serupa disampaikan pengurus PKC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur. Ia menekankan bahwa organisasi mahasiswa Islam tidak boleh semata-mata menjadi wadah kaderisasi politik praktis.

“Organisasi mahasiswa Islam tidak boleh hanya menjadi ‘pabrik’ politisi masa depan. Ia harus kembali menjadi ‘rahim’ pemikir yang punya keberanian moral,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya keberpihakan sosial yang bersifat sistemik dan berkelanjutan. Menurutnya, pola bantuan konvensional perlu ditingkatkan menjadi gerakan berbasis sistem.

“Keberpihakan sosial di masa depan tidak lagi cukup dengan bagi-bagi sembako, tetapi dengan membangun sistem. Misalnya, bagaimana mahasiswa Islam mempelopori crowdfunding berbasis wakaf untuk membantu biaya kuliah mahasiswa yang kurang mampu,” ujarnya.

Diskusi yang berlangsung selama dua jam tersebut menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa lintas organisasi untuk merumuskan kembali orientasi gerakan. Melalui forum ini, para narasumber sepakat bahwa masa depan gerakan mahasiswa Islam terletak pada keberanian menjaga tradisi intelektual, konsistensi dalam aksi sosial, serta komitmen membangun sistem yang berpihak pada masyarakat.


Pewarta : Taufiqurrahman
Editor     : Amrozi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...