Langsung ke konten utama

Rekonstruksi Gagasan dan Gerakan, Untuk Siapa?

(Doc/Ilustrasi: Istimewa) Penulis: Kartono Zarkasyi(Aktivis kampus UNIRA Malang)

Malang, LAPMI- Beberapa waktu lalu saya pernah menulis mengenai fenomena “aktif di luar, pasif di dalam” Tulisan tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap organisasi mahasiswa yang begitu antusias membicarakan berbagai persoalan di luar kampus, tetapi terkadang kurang peka terhadap persoalan yang ada di lingkungan kampusnya sendiri.

Kegelisahan itu kembali muncul ketika BEM UNIRA mengadakan Musyawarah Kerja Daerah BEM Kabupaten Malang dengan tema “Rekonstruksi Gagasan dan Gerakan”  tepat di aula kampus UNIRA . Secara konseptual, tema ini terdengar progresif dan akademis. Kegiatan ini sekilas menunjukkan semangat intelektual dan keinginan untuk membangun kembali arah gerakan mahasiswa. Namun, yang menjadi pertanyaan mendasar adalah ;

1. Gagasan apa yang ingin direkonstruksi? 
2.Gerakan seperti apa yang ingin dibangun kembali?

Sebab rekonstruksi tidak lahir dari ruang kosong. Rekonstruksi menandakan adanya kerusakan, kegagalan, atau setidaknya ketidakrelevanan terhadap kondisi sebelumnya. Jika BEM UNIRA berbicara tentang rekonstruksi gagasan, maka publik mahasiswa berhak mengetahui gagasan apa yang selama ini telah dibangun dan mengapa ia perlu direkonstruksi. Kemudian sama halnya gerakan, gerakan mana yang mengalami stagnasi sehingga perlu dibangun kembali.

Bukanya Nihil? 
Sibuk popularitas lupa prioritas!!

Dengan demikian dapat dikatakan tema tersebut hanya menjadi kemasan akademik yang terdengar progresif tetapi miskin substansi. Sebab dalam tradisi intelektualitas, tema bukan sekadar rangkaian kata-kata indah untuk kebutuhan publikasi, melainkan harus lahir dari pembacaan kritis terhadap realitas yang sedang dihadapi. 

Lebih jauh lagi, terdapat ironi yang sulit diabaikan. BEM yang berbicara tentang rekonstruksi gerakan justru perlu terlebih dahulu mengevaluasi keberadaan gerakannya di lingkungan kampus sendiri. Apa dampak konkret yang telah dirasakan mahasiswa UNIRA? Isu kampus apa yang telah berhasil dikawal? Persoalan akademik, fasilitas, kesejahteraan mahasiswa, maupun kualitas ruang diskusi mana yang telah menjadi fokus perjuangan? Jangan sampai energi organisasi lebih banyak dihabiskan untuk membangun legitimasi eksternal daripada menyelesaikan persoalan internal. 

Forum Musyawarah Kerja Daerah yang diselenggarakan di kampus tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi UNIRA. Namun kebanggaan itu akan kehilangan maknanya apabila persoalan-persoalan internal kampus masih belum menjadi perhatian utama. UNIRA membutuhkan gerakan yang menghadirkan dampak, bukan sekadar agenda. Membutuhkan gagasan yang lahir dari problem nyata mahasiswa, bukan hanya istilah-istilah konseptual yang terdengar revolusioner.


Penulis : Kartono Zarkasyi
Editor : Amrozi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Antara HMI atau Kadernya yang Hilang Arah Saat Ini?

  Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) Malang, LAPMI -  Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang? Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan str...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...