![]() |
(Doc/Ilustrasi: Istimewa) Penulis: Kartono Zarkasyi(Aktivis kampus UNIRA Malang) |
Malang, LAPMI- Beberapa waktu lalu saya pernah menulis mengenai fenomena “aktif di luar, pasif di dalam” Tulisan tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap organisasi mahasiswa yang begitu antusias membicarakan berbagai persoalan di luar kampus, tetapi terkadang kurang peka terhadap persoalan yang ada di lingkungan kampusnya sendiri.
Kegelisahan itu kembali muncul ketika BEM UNIRA mengadakan Musyawarah Kerja Daerah BEM Kabupaten Malang dengan tema “Rekonstruksi Gagasan dan Gerakan” tepat di aula kampus UNIRA . Secara konseptual, tema ini terdengar progresif dan akademis. Kegiatan ini sekilas menunjukkan semangat intelektual dan keinginan untuk membangun kembali arah gerakan mahasiswa. Namun, yang menjadi pertanyaan mendasar adalah ;
Sebab rekonstruksi tidak lahir dari ruang kosong. Rekonstruksi menandakan adanya kerusakan, kegagalan, atau setidaknya ketidakrelevanan terhadap kondisi sebelumnya. Jika BEM UNIRA berbicara tentang rekonstruksi gagasan, maka publik mahasiswa berhak mengetahui gagasan apa yang selama ini telah dibangun dan mengapa ia perlu direkonstruksi. Kemudian sama halnya gerakan, gerakan mana yang mengalami stagnasi sehingga perlu dibangun kembali.
Dengan demikian dapat dikatakan tema tersebut hanya menjadi kemasan akademik yang terdengar progresif tetapi miskin substansi. Sebab dalam tradisi intelektualitas, tema bukan sekadar rangkaian kata-kata indah untuk kebutuhan publikasi, melainkan harus lahir dari pembacaan kritis terhadap realitas yang sedang dihadapi.
Lebih jauh lagi, terdapat ironi yang sulit diabaikan. BEM yang berbicara tentang rekonstruksi gerakan justru perlu terlebih dahulu mengevaluasi keberadaan gerakannya di lingkungan kampus sendiri. Apa dampak konkret yang telah dirasakan mahasiswa UNIRA? Isu kampus apa yang telah berhasil dikawal? Persoalan akademik, fasilitas, kesejahteraan mahasiswa, maupun kualitas ruang diskusi mana yang telah menjadi fokus perjuangan? Jangan sampai energi organisasi lebih banyak dihabiskan untuk membangun legitimasi eksternal daripada menyelesaikan persoalan internal.
Forum Musyawarah Kerja Daerah yang diselenggarakan di kampus tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi UNIRA. Namun kebanggaan itu akan kehilangan maknanya apabila persoalan-persoalan internal kampus masih belum menjadi perhatian utama. UNIRA membutuhkan gerakan yang menghadirkan dampak, bukan sekadar agenda. Membutuhkan gagasan yang lahir dari problem nyata mahasiswa, bukan hanya istilah-istilah konseptual yang terdengar revolusioner.
Editor : Amrozi

Komentar
Posting Komentar